Budayawan Sujiwo Tejo Hadir di Desa Menawan Pada Acara Diskusi "Ngaji Budaya Sedang Widodari.
Kudus,KUDUS TIME.com – Keprihatinan terhadap semakin berkurangnya kepedulian generasi muda terhadap sejarah, budaya, dan warisan leluhur mendorong Karang Taruna Desa Menawan bersama Komunitas Suara Kesadaran menggelar diskusi budaya bertajuk “Ngaji Budaya Sendang Widodari”.
Kegiatan tersebut digelar secara terbuka di Bumi Perkemahan Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Sabtu malam (12/9/2026).
Diskusi mengangkat berbagai pembahasan mengenai sejarah, budaya, peninggalan peradaban masa lampau, hingga keberadaan manuskrip dan peta-peta kuno yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah Nusantara.
Sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya arsiparis ISI Surakarta Jamal, akademisi sekaligus kolektor arsip dan peta sejarah Bukhori Masruri, Dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair) Hari Fitrianto, Putri Paku Buwana XIII GRAy Putri Purnaningrum, budayawan Sudjiwo Tedjo, serta ahli Aksara Nusantara dan kurator manuskrip Diaz Nawakaara.
Ketua Panitia Ngaji Budaya Sendang Widodari, Olga Yogantara, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi generasi muda yang dinilai semakin jauh dari sejarah dan kebudayaan bangsa.
“Acara ini dilatarbelakangi keprihatinan kami terhadap bangsa kita sendiri karena anak muda sekarang kurang dalam melestarikan budaya sendiri. Sekarang sudah tergerus oleh budaya modern dan budaya Barat,” ujar Olga.
Menurutnya, diskusi tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membuka kembali kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya memahami akar sejarah dan kebudayaan Nusantara.
“Karena itu kami ingin mengajak generasi muda untuk kembali mengenal sejarah, budaya dan warisan leluhur yang kita miliki,” lanjutnya.
Dalam diskusi tersebut, GRAy Putri Purnaningrum turut membedah sejumlah aspek budaya Keraton, termasuk mengenai tari yang secara tradisi dipersembahkan dalam lingkungan Keraton dan memiliki ketentuan tersendiri dalam pementasannya.
Pembahasan juga menyentuh proses dan filosofi berdirinya seorang raja, termasuk ritual batin, filosofi Keraton, serta ekosistem kehidupan yang dalam perspektif kebudayaan Keraton mencakup dimensi nyata maupun spiritual.
Sementara itu, Diaz Nawakaara membahas makna budaya dan peradaban melalui perspektif Aksara Nusantara dan manuskrip.
Menurut Diaz, upaya memahami kebudayaan dan peradaban masa lalu tidak dapat dilepaskan dari kemampuan membaca serta memahami aksara dan manuskrip yang menjadi bagian dari sumber pengetahuan sejarah.
Sedang budayawan Nasional Sudjiwo Tedjo mengulas jalan untuk memahami dari mana kita berasal, jadi kita jangan melupakan jati diri kita, kalau orang Sunda jangan melupakan budaya Sunda, kalau orang Minang jangan melupakan budaya Minang, begitu pula orang Jawa jangan melupakan budaya Jawa(Ojo ilang Jawane)
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak melihat budaya bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai bagian penting dari identitas dan pengetahuan yang perlu dipahami serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Diskusi Ngaji Budaya Sendang Widodari juga menjadi ruang bertemunya akademisi, budayawan, pemerhati sejarah, kolektor arsip, dan masyarakat untuk membicarakan kembali kekayaan sejarah serta kebudayaan Nusantara yang selama ini tersimpan dalam berbagai bentuk peninggalan.
Para penyelenggara berharap kegiatan semacam ini dapat terus dikembangkan sehingga generasi muda memiliki ruang untuk mengenal, mengkaji, dan turut menjaga sejarah serta kebudayaan yang berkembang di tengah masyarakat.
(Faizun)
